Surat Kecil untuk
William Wordsworth
Kau
cukup melepaskan dirimu dari hiru pikuk planetmu
untuk sampai di planet kami yang penuh
dengan
hal-hal yang menakjubkan
Terus terang saja aku telah jatuh
hati ketika pertama kali aku membacamu dengan segala sesuatu yang kau yakini.
Apakah kau masih mengingat obrolan hangat kita di café baca pinggiran kota?
Ketika langit berwarna kuning seperti jeruk di atas meja makan ibu yang tak
pernah tersentuh oleh ayah bertahun-tahun. Kita adalah orang “yang merenung dan
terus merenung/ menjelajah samudra pikiran serba asing sendirian “. Jika saja neuron –neuron di otakku ini tak
berkarat tentu kata-kata yang kukutip dari pemikiran liarmu itu tak salah.
Sebuah pilihan menjadi manusia
soliter adalah upaya untuk membunuh diri sendiri di depan hiru pikuk jutaan
pilihan hidup yang tersedia di depan mata. Bahkan kini aku sadar tak memilih
pun itu adalah sebuah pilihan. Dan kini aku mulai setuju denan pendapatmu
tentang mereka (kawanan soliter) adalah mereka yang menantang diri sendiri
untuk menghidupkan sebuah keheningan di tengah taman yang ramai dikunjungi
orang-orang. Namun kau tahu perasaan
solitude adalah langkah awal yang baik untuk jujur pada diri sendiri.
Kini musim di planetku telah
berganti. Anak-anak kecil telah berusaha menjadi dewasa dengan apa yang mereka
dengar dan apa yang mereka lihat. Namun topeng soliter itu tetap melekat
padaku. Sederhana saja, aku hanya ingin
menunjukkan pada semua peragu tentang keberadaanku, ketidaksamaanku, dan aku
ingin mereka mengakui semua itu.
Setiap matahari berjanji untuk
menyinari dunia dalam satu hari, aku berharap akan menjumpai orang-orang baru
dalam hidupku. Dan kita akan memulainya dengan sebuah perbincangan hangat.
Tentang sesuatu yang sedikit dan nyaris tak ada dalam benak manusia lainnya. Mungkin tentang menyembuhkan
orang dari penyakit alergi baca, alergi menulis, syndrome tak mau mendengarkan,
dan buta akan keharusan hidup bertoleransi di muka bumi.
Namun rasanya sesak ketika melihat sebagian dari mereka hanya
pandai berdiskusi perihal teori denganku. Tentu kami akan berbicara tentang
sebuah mekanisme, namun ketika kita berusaha menjadikan semua ini nyata, aku
tersadar jika kini tak ada satu pun orang di belakangku.
Menjadi manusia soliter bukan
berarti kau tak membutuhkan orang lain dalam hidupmu. Namun hanya menolak untuk
ditemani tapi tak juga ingin ditinggalkan. Merenung dan berjalan sendiri adalah
cara kaum soliter untuk mengumpulkan partikel-partikel energi untuk menghadapi
mata dunia yang terkadang tak bersahabat. Dengan begitu topeng yang mereka
gunakan akan terlihat sempurna.
Selain engkau ada seorang sahabat
dari seberang yang mulai kubaca. Para kawan di luar sana sering memanggilnya
dengan Baudrillard dengan dogma yang memikat hati. Jika manusia identic dengan
diri sendiri ketika ia tidur, pingsan, dan mati.